22-10-2009.
Papaku sakit. Mati lampu.
Dalam remang-remang malam aku berjalan pulang dari rumah nenekku yang berkisar 200m.
Sesekali anjing-anjing peliharaanku menggonggong, menemaniku dalam gelapnya malam diantara jalan raya dan hutan.
Dari kejauhan aku melihat rumahku yang terang benderang diantara rumah lainnya.
Aku menggedor pagar rumah, dan Mbak Atin, pembantuku yang polos dengan badannya yang subur berlari segera membuka pintu.
Aku melihat papaku lagi asyik menonton TV, ditemani mama yang menyuguhkan secangkir teh.
O'omku sibuk bermain gitar dikamarku, dan anaknya Olivia mengutak-atik segala pernak-pernik berbentuk tengkorak yang selama ini menjadi koleksiku.
Tak berapa lama, kudengar suara mesin mobil yang dihidupkan.
Dan aku mendengar mamaku berpesan agar om-ku mau menjaga rumah dengan Mbak Atin, dan mematikan mesin genset bila lampu telah dihidupkan oleh PLN.
Aku yang tidak terlalu ambil pusing, mengurung diri dikamar. Menghidupkan lap-top, dan memasangkan modem. Aku segera membuka FB-ku.
Ternyata mamaku mengajakku pergi menemani papa ke tukang urut.
Walau sedikit malas, kupaksakan diri menemani papa yang sedang meriang.
Adik sepupuku Olivia yang masih berumur 4 tahun, mengekor dibalakangku.
Jalanan yang kami lalui sangat gelap, warung-warung dipinggir jalan hanya diterangi lampu teplok. Ini artinya PLN belum berkenan untuk menghidupkan lampu.
Aku kira akan langsung ketempat urut, ternyata papaku membawa kami semua pergi ke palet milik om-ku yang lainnya.
Genset yang tua itu masih dapat menerangi sekitar palet, meskipun suara mesinnya yang sangat memekakkan telinga.
Anjing penjaganya menyalak beberapa kali, bersiap-siap untuk menerkam didalam kegelapan malam.
Palet ini berada di sekitar hutan, dan konon, tak jauh dari sini, pernah ada seseorang yang gantung diri di salah satu pohon hutan tersebut.
membayangkannya saja sudah membuatku merinding.
Lampu hidup. Papaku memacu mobilnya ke tukang urut.
Papaku terlentang di atas dipan, diurut sama tukang urut.
Ada yang aneh, itulah yang terpikir olehku sejak menjejakkan kaki di tempat ini.
Bau ramuan-ramuan kampung yang kukenal dan yang sangat mengusik hidungku.
Seorang pria tua, dia yang memiliki tempat ini. Ditemani dengan anak gadisnya yang aku tidak tahu mengapa, ada yang aneh.
Banyak yang meminta pengobatan darinya. Pasien-pasien yang masih ada meski pun jarum jam menunjukkan angka 10 malam.
Anak gadisnya sibuk berceloteh sana-sini pada mamaku. Aku hanya melihat reaksi Olivia yang mulai ngantuk. Aku memangkunya.
Tak lama kami pulang, mamaku bercerita tentang pria tua tadi.
Ternyata dia sudah tiga kali memperkosa istri orang, yang menurutku itu angka yang banyak!
Korban yang ketiga istri seorang tentara, saat tentara tersebut mau mengejarnya, pria tua itu melarikan diri. Dan baru kembali beberapa bulan yang lalu.
Sempat terpikirku, apakah anak gadisnya masih perawan?
Tanggal 23-10-2009
Raninta ulang tahun. Aku rela-relain mengucapkan selamat ulang tahun pada jam 12 malam.
Karena hari ini tidak sekolah, aku dan mamaku pergi ke mall.
Dan bertemu dengan teman mamaku. Tante Gita.
Tante Gita bilang kalau, anak gadis dari pria tua tukang urut itu ada gangguan..
mungkin kejiwaan atau mungkin autis.
Pantesan ada yang aneh, tapi aku merasa dia normal, kecuali cara jalannya yang memang terlihat sangat--sangat tidak wajar.
"Mungkin saja bapaknya kasih kekuatan sama anaknya makanya bisa jadi terlihat normal."
Itu yang dikatakan Tante Gita.
Istri pria tua itu masih hidup, dengan ketujuh anak mereka yang telah memiliki kehidupan tersendiri, dan anak bungsunya yang autis.
Banyak hal yang masih membuatku bingung.
Dan kejadian malam itu menjadi sebuah renungan dan pelajaran baru bagiku untuk menempuh hidup yang berliku ini.
No comments:
Post a Comment